JAKARTA! Kota ini telah tumbuh dan berkembang sangat pesat. Dalam setahun berbagai pembangunan infrastruktur, baik yang dikerjakan oleh pemerintah daerah maupun swasta terlihat di mana-mana dengan berbagai tujuan: atas nama pembangunan kota, peremajaan kota, hingga mengatasi permasalahan kota, seperti masalah kemacetan dan banjir, walaupun untuk tujuan terakhir ini lebih sering permasalahan menjadi semakin parah seiring dengan lambatnya atau bahkan tak pernah selesainya pula proyek pembangunan tersebut.
JAKARTA! Kota ini pun tak pernah kehilangan daya tarik untuk didatangi orang dari berbagai daerah. Semua ada di Jakarta. Begitu sebagian besar alasan mereka. Akhirnya kota ini dihuni oleh belasan juta penduduk yang tinggal di setiap jengkal lahan pemukiman yang masih tersisa karena semakin banyaknya penertiban dan penggusuran atas nama pembangunan seperti yang diungkapkan di atas tadi. Tak ayal, pembangunan apartemen-apartemen pun semakin banyak, walaupun sebenarnya jika kita mau sedikit berpikir logis, lebih banyak manakah antara jumlah penduduk kelas bawah dan jumlah penduduk kelas atas di Jakarta ini? Mengapa lebih banyak terlihat pembangunan apartemen mewah daripada apartemen sederhana atau sebutlah rumah susun?
JAKARTA! Berbicara tentang kota ini, maka tak bisa jauh dari sebuah kata, yaitu kemacetan. Setiap warga Jakarta pasti pernah mengalami stresnya, sesaknya, bahkan letihnya menghadapi kemacetan Jakarta, kecuali tentu saja RI 1 dan para rekan-rekan kerjanya (walaupun saya yakin sebelum menjadi pejabat, mereka pasti juga pernah terjebak macet di kota ini :) ) Dalam kemacetan, berbagai perilaku warga Jakarta pun dapat terlihat: tidak
sabaran, cepat emosi, tidak peduli orang lain (serobot sana serobot sini) hingga orang-orang yang hanya bisa menghela nafas atau diam. Sebagian orang mengatakan bahwa kemacetan diakibatkan karena jumlah kendaraan bermotor tidak seimbang dengan keberadaan infrastrukturnya. Jumlah pembangunan jalan setiap tahun tidak terlalu banyak, sedangkan jumlah penjualan kendaraan bermotor bisa berkali-kali lipat kenaikannya setiap tahun. Solusi pemerintah pun untuk menaikkan pajak pembelian kendaraan bermotor tidak banyak berpengaruh. Jadi, seperti biasa yang akhirnya dapat menjadi biasa, warga Jakarta harus terbiasa dan sepertinya sudah terbiasa dengan kemacetan :)
JAKARTA! Masih banyak hal lain - sebenarnya - yang bisa dibicarakan dari kota ini. Namun apapun yang dibicarakan dan dikeluhkan dari Jakarta, seperti syair lagu: "ke Jakarta aku kan kembali" :p. Karena bagaimanapun kisruhnya pengaturan dan pemeliharaan kota ini, untuk kebanyakan orang yang menggantungkan hidupnya pada denyut jantung Jakarta, baik atas nama tak ada pilihan lain atau memang betah, mereka akan tetap kembali dan bertahan di kota calon megapolitan ini.
hmm...